Sabtu, 13 Januari 2018

Mbah Manab Lirboyo dan Mbah Abbas Buntet

Tidak ada komentar:
Al-Huda | KH Abbas Abdul Jamil dan KH Abdul Karim (Mbah Manab) adalah tokoh besar dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Kiai Abbas terkenal tak hanya sebagai kiai yang alim tapi juga ‘jadug’ alias ahli kanuragan asal Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Sebagai salah satu murid utama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Kiai Abbas bahkan mendapatkan kepercayaan sepenuhnya untuk menjadi panglima perang bersejarah bangsa Indonesia di Surabaya, 10 November 1945. Pertempuran yang sedianya dimulai pada satu hari sebelumnya, namun oleh Mbah Hasyim diundur sampai menunggu kedatangan sang macan dari Cirebon, Kiai Abbas Buntet.

Mbah Abbas tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah besar bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah pada 10 November yang hingga kini diperingati sebagai hari pahlawan. 

Beda Mbah Abbas, beda Mbah Manab Lirboyo. Bila Mbah Abbas dikenal secara luas namanya di hampir seluruh penjuru Indonesia, Mbah Manab lebih cenderung mastur (tertutupi). Mbah Manab adalah sosok kiai di balik layar, beliau hampir tidak pernah diberitakan secara luas di khalayak. Peran beliau lebih banyak terlihat mengasuh para santri di dalam pesantren. Namun kecintaannya kepada tanah air tidak diragukan lagi. Terbukti dalam masa-masa menghadapi para penjajah, para santri Lirboyo asuhan beliau juga banyak yang diutus untuk terlibat perang melawan tentara sekutu. 

Mbah Manab yang sekarang lebih dikenal dengan nama KH Abdul Karim adalah ulama yang ‘alim ‘allamah (cendekia yang sangat alim). Beliau menguasai ilmu-ilmu agama dalam berbagai macam fan. Di antara ilmu-ilmu agama yang beliau kuasai, yang paling tampak dari beliau adalah kepiawannya di bidang ilmu nahwu dan sharaf (gramatika Arab).

Kepakaran Mbah Manab di bidang nahwu dan sharaf diakui oleh para ulama besar di bumi Nusantara, termasuk oleh KH Kholil Bangkalan dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Bahkan, ayahanda mendiang Gus Dur yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional, KH Abdul Wahid Hasyim juga berguru kepada Mbah Manab untuk mengaji kitab Alfiyyah Ibnu Malik, sebuah karya besar Imam Ibnu Malik tentang gramatika Arab yang tidak asing lagi di kalangan para santri. Menurut riwayat dari cicitnya Mbah Manab, yaitu KH Ibrahim Ahmad Hafizh, Mbah Wahid Hasyim belajar Alfiyyah kepada Mbah Manab hanya ditempuh dalam waktu satu minggu.

Banyak kiai-kiai pada waktu itu merekomendasikan para santri yang berniat mengaji ilmu gramatika Arab agar belajar langsung kepada Mbah Manab. Kepakaran Mbah Manab di bidang nahwu dan sharaf sudah tampak sejak beliau mesantren di Bangkalan dan Tebuireng. 

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari misalnya, beliau merekomendasikan KH Abbas Buntet untuk ‘sorogan’ mengaji kitab kepada Mbah Manab di Pesantren Lirboyo. Saran dan petunjuk Mbah Hasyim tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh Mbah Abbas. Kiai Abbas merasa ‘marem’ (puas) belajar membaca kitab di bawah bimbingan Mbah Manab. Banyak pelajaran dan ilmu berharga yang didapat Mbah Abbas saat mengaji kepada Mbah Manab. Kiai Abbas digemleng oleh Mbah Manab di pesantren Lirboyo hingga menjadi kiai yang alim.

Selepas pulang dari pesantren Lirboyo, kiai Abbas kembali ke tanah kelahirannya di Cirebon untuk berkiprah di masyarakat. Kiai Abbas di tanah kelahirannya banyak merekomendasikan anak-anak muda di Cirebon untuk mesantren di Lirboyo Kediri. Sejak saat itu, santri-santri asal Cirebon mulai banyak berdatangan di Lirboyo. Hingga kini Pesantren Lirboyo menjadi salah satu pesantren terbesar di Nusantara dengan jumlah santri dan alumni yang menyebar di mana-mana. Dan di antara ribuan santri di Lirboyo, banyak santri yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Hal tersebut tidak lepas dari peran Kiai Abbas mengenalkan sosok kiainya, Mbah Manab kepada wali santri di Cirebon.

Riwayat tentang Mbah Hasyim yang menyarankan Mbah Abbas mesantren di Lirboyo juga didapatkan penulis dari cicitnya Mbah Manab, KH Ibrahim Ahmad Hafizh.

Demikianlah hubungan antara Kiai Manab dan Kiai Abbas, hubungan antara santri dan kiai yang berjasa besar melahirkan generasi ulama dan tokoh perjuangan yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. Ketokohan Kiai Abbas Buntet yang begitu terkenal, tidak lepas dari gemblengan sang kiai ‘mastur’, KH Abdul Karim Lirboyo. Benar kata para ulama, “Kam min masyhurin bibarakatil mastur (banyak tokoh yang terkenal berkat sentuhan sosok di balik layar).”

Untuk kedua guru dan masyayikh kita, KH Abdul Karim dan KH Abbas Abdul Jamil, mari kita hadiahkan bacaan surat al-Fatihah... 

(sumber: http://www.nu.or.id/post/read/84641/antara-mbah-manab-lirboyo-dan-mbah-abbas-buntet-)

~oo()oo~

KH Tubagus Muhammad Falak Sempat Dikira Dukun

Tidak ada komentar:

Al-Huda | Di antara kelebihan para ulama pendahulu adalah karomah atau keistimewaan selain ilmu agama yang mumpuni. Bahkan, para ulama pesantren juga mempunyai bekal ilmu kanuragan atau kesaktian bela diri dan tenaga dalam. Ilmu agama, dipadu dengan keistimewaan dan kanuragan yang tinggi menjadi pendamping setia dalam menghadapi setiap ancaman dalam berdakwah.

Sejarah mencatat, para kiai Nahdlatul Ulama (NU) mendapat rintangan yang tidak mudah ketika berdakwah dengan mendirikan pesantren di sebuah wilayah yang merupakan ‘zona merah’. Sebut saja Hadratussyekh Hasyim Asy’ari saat mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang mendapat gangguan dari orang-orang jahat yang tidak suka dengan keberadaan dakwah pesantren kala itu. Namun dengan bekal ilmu hikmah dan kanuragan yang cukup, Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya mampu menaklukkan para bandit, tetapi menyadarkan mereka untuk ikut dan belajar di pesantren.

Begitu juga dengan KH Tubagus Muhammad Falak. Kiai kelahiran 1842 di Kampung Sabi, Pandeglang, Banten yang merupakan teman seperjuangan Kiai Hasyim Asy’ari ini juga mendapat rintangan serupa ketika ingin mendirikan sebuah Pesantren Al-Falak di daerah Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat.

Kiai yang juga perintis NU di wilayah Bogor ini mendapat tantangan tidak mudah ketika mendapati sebuah masyarakat yang percaya akan dukun dan penuh dengan mistifikasi. Sehingga putra KH Tubagus Abbas yang mempunyai ketersambungan nasab kepada Sultan Maulana Hasanuddin, Raja Banten putra Sunan Gunung Jati ini harus terlebih dahulu menghadapi dukun-dukun tangguh dan kuat di kampung tersebut.

Pertarungan dengan dukun di sini bukan dalam hal fisik, tetapi lebih kepada penguatan akidah dan nilai-nilai Islam. Kiai Tubagus Muhammad Falak dengan ilmu hikmah dan karomahnya mampu membuat masyarakat di Pagentongan percaya bahwa Allah-lah Yang Maha Kuasa dan Penolong sehingga mereka tidak lagi percaya kepada dukun, kembali kepada ajaran ulama yang tersambung ilmunya hingga Nabi Muhammad.

Setelah para dukun dikalahkan, sasaran berikutnya adalah para jawara – penjahat jagoan kampung – yang seringkali mengganggu kehidupan penduduk, terutama di malam hari dan di tempat-tempat terpencil. Sehingga Kiai Tubagus Muhammad Falak yang paham dan menguasai ilmu tenaga dalam (kanuragan) mengajarkan wirid syaman kepada beberapa santrinya. (Choirul Anam, 2010)

Wirid syaman merupakan doa-doa yang berasal dari ajaran Syekh Syaman disertai jurus dan gerakan-gerakan berkeliling dan maju, dilakukan oleh laki-laki. Dengan wirid ini, para santri mempercayai seperti mendapat tambahan kekuatan jasmani dan keberanian untuk menghadapi lawan dan pergulatan. Bekal ilmu kanuragan berbasis spiritualitas ini yang kemudian membuat para santri mampu mematahkan gangguan dari para ‘jawara’ tersebut.

Masyarakat merasa tertolong dengan adanya bantuan dari kiai yang merupakan seorang mursyid (guru besar) Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini. Dengan demikian, tumbuhlah pengakuan masyarakat terhadap kelebihan Kiai Muhammad Falak. Bahkan dalam pandangan awam, Kiai Muhammad Falak tidak hanya dikenal sebagai ulama terkemuka dan sakti, tetapi juga sempat dianggap sebagai dukun keramat yang memiliki banyak ilmu hikmah. 

Padahal, kesaktian kiai yang wafat pada 1972 di usia 130 tahun di Pagentongan ini diperoleh dari memahami ilmu tenaga dalam yang disertai dengan sejumlah wirid dan doa sebagai wujud kepasrahan manusia terhadap kekuatan Allah Yang Mahadahsyat. Dengan perjuangan untuk masyarakatnya itu, Kiai Muhammad Falak ditetapkan oleh masyarakat sebagai seorang pemimpin kharismatik yang kehadirannya banyak menolong masyarakat sekitar.

Karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, banyak santri dan masyarakat berbondong-bondong ingin belajar ilmu agama kepada Kiai Tubagus Muhammad Falak di Pesantren Al-Falak Pagentongan. Itulah titik awal pesantren yang didirikan pada 1907 itu menjadi pesantren yang masyhur dan terus bergerak maju.  (sumber: http://www.nu.or.id/post/read/84678/penuh-hikmah-kh-tubagus-muhammad-falak-sempat-dikira-dukun)

~oo()oo~

Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia

Tidak ada komentar:

Pengurus Besar Nadlaltul Ulama (PBNU) menerbitkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” dalam International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, yang dihelat sejak Senin (9/5).

Deklarasi tersebut dibacakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Selasa (10/9) sore, di hadapan para ulama dari berbagai negara. Naskah deklarasi dirumuskan setelah PBNU menggelar pertemuan terbatas dengan para ulama itu pada siang harinya.

Berikut naskah lengkah “Deklarasi Nahdlatul Ulama” di ujung forum internasional yang mengusung tema “Islam Nusantara, Inspirasi untuk Peradaban Dunia” ini:



Deklarasi Nahdlatul Ulama 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
 (الأنبياء: 107)

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
 (الإسراء: 70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra`: 70)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ 
(الحج:78)

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ 
(رواه البيهقي)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلا مُتَعَنِّتًا ، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرً 
(رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ 
(رواه النسائ)

“Seorang muslim sejatinya adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lisan dan tangannya. Sedang seorang mukmin adalah orang yang mendatangkan rasa aman kepada orang lain dalam darah dan hartanya” (HR. An-Nasai)

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِفْقَ فِى الْأَمْرِ كُلِّهِ (متفق عليه)

“Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan” (Muttafaq ‘Alaih)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)

Selengkapnya..  klik di sini


~oo(Al-Huda)oo~

Dasar Pemikiran NU

Tidak ada komentar:


Dasar – Dasar Pemikiran NU adalah sebagai berikut :

1. Nahdlatul Ulama mendasarkan paham keagamaannya kepada sumber ajaran islam, yaitu Al Qur’an, As Sunnah, Al Ijma’ (kesepakatan pada sahabat dan ulama), dan A Qiyas (analogi).

2. Dalam memahami, menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya di atas, Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunnah Wal Jamaah dan menggunakan jalan pendekatan IAl Madzhab) : Di bidang bidang aqidah, Nahdlatul Ulama mengikuti paham Ahsusunnah Wal Jama’ah yang dipelopori oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Manshur Al Maturidi. Di bidang fiqih, Nahdlatul Ulama mengikuti jalan pendekatan (Al Madzhab) salah satu dari empat madzhab, yaitu : Abu Hanifah an Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i, serta Imam Ahmad bin Hambal. Di bidang tasawuf mengikuti Imam Al Junaidi Al Baghdady dan Imam Ghazali, serta imam lainnya

3. Nahdaltul Ulama mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama yang fitri yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang dimiliki oleh manusia. Paham keagamaan yang dianut Nahdlatul Ulama bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi milik serta ciri-ciri suatu kelompok manusia seperti suku maupun bangsa, dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut.

Video Streaming







~oo(AlHuda)oo~
 
back to top